“ah,
benarkah ? baiklah.” Kata Chae Lee bergegas ke dapur.
“Soo Ah, menu apa yang
kau rekomendasikan untuk menu makan siang ?”, tanya Tuan Kim keluar dari
ruangannya.
“karena ini sudah masuk musim dingin, bagaimana kalau menu utama
nya adalah kimchi.. Kimchi Jeon, Chonggak Kimchi, Dubu Kimchi, Gungjung Baechu
Kimchi, Kimchi Jigae, dan sup kimchi yang lain.. bukankah kimchi sangat cocok
di makan saat udara dingin, Kimchi juga bisa membuat badan segar kembali. Lagipula
Insadong dikenal dengan deretan kedai yang menyediakan masakan khas korea. Bagaimana Tuan Kim ?”, tanya Soo
Ah.
“benar juga, kalau begitu pergilah ke pasar, beli sawi kimchi dan bahan-bahan
lain yang dibutuhkan !”, suruh Tuan Kim sambil memberi uang belanja.
Soo Ah
segera melesat menuju ke pasar. Semakin siang pasar semakin ramai. Deretan lapak
menual sawi kimchi, suara hiruk pikuk penjual yang menawarkan dagangan dan
suara pembeli yang sibuk menawar.
Soo Ah
bergegas membeli semua barang-barang yang diperlukan. Dia tidak mau badannya
membeku karena dingin nya udara yang mungkin di bawah titik didih.
Brak ! semua barang yang telah di beli nya segera di taruh di meja dapur.
“Soo
Ah, kau beli apa ?”, tanya Chae Lee.
“ah, Tuan Kim menyuruhku membeli bahan-bahan untuk masakan kimchi.”
“kau membeli sawi Kimchi ?”
“ne, kalau aku beli sawi dan lobak segar, butuh tiga hari untuk membuatnya kan,
karena menurutku akan banyak pelanggan hari ini, aku beli saja yang instan”
kata Soo Ah tersenyum.
Benar saja,
karena udara yang semakin dingin, kedai kopi tempat Soo Ah bekerja semakin
ramai. Ada yang sekedar minum secangkir kopi, ada juga yang datang
beramai-ramai sambil memesan makanan. Para pegawai tidak mempunyai waktu untuk
beristirahat karena pelanggan selalu datang dan memesan banyak.
Tik..tik..tik..
suara detik jam berganti dengan suara alarm yang menunjukkan pukul sepuluh
malam. Soo Ah dan yang lain sibuk untuk membersihkan kedai. Saatnya nafas lega
mereka helakan karena sudah dapat bersiap untuk pulang.
“Tanggal
22 Desember nanti kalian akan tetap bekerja. Kedai akan buka pukul lima sore sampai
setengah dua belas malam.”, kata Tuan Kim
“22 Desember, itu lusa. Bukankah kita seharusnya sudah libur ? lagipula pada
tanggal itu keluarga akan berkumpul untuk merayakan Dongji (동지).”, protes Chae Lee.
“benar, maka akan banyak toko yang tutup pada hari itu. Sedangkan akan ada
banyak keluarga yang akan keluar untuk merayakan Dongji. Entah untuk minum atau
berkaraoke. Kita bisa memanfaatkan waktu seperti itu untuk memperoleh keuntungan.
Bonus kalian akan dibayar tiga kali
lipat di tambah gaji tahun baru. Lalu Januari nanti kalian tetap akan mendapat
upah. Bagaimana ?”, tanya Tuan Kim dengan otak cemerlangnya itu.
Mendengar bonus yang menggiurkan semua segera meng-iyakan
usul tuan Kim. Siapa yang tidak tergiur dengan kantong yang tebal.
Soo Ah segera pulang ke rumahnya.
“malam ini appa tidak pulang lagi ?”, gerutunya sambil
menutup pintu.
Diambilnya sepanci kecil air untuk membuat ramen.
Natal tinggal
menghitung hari, tapi hiasan satu pun belum ada yang terpajang di rumah. Appa yang
sibuk dengan pekerjaannya, eomma yang meninggal delapan tahun yang lalu.
“ah..”, desahnya. Setetes air mata begulir ke pipi nya
Ibu nya meninggal delapan tahun yang lalu. Ayahnya yang
sedih mencoba melupakan kejadian itu dengan menyibukkan dirinya dalam
pekerjaan. Bahkan dia tidak tahu jika Soo Ah bekerja sambilan selama enam bulan
ini.
Brak ! suara pintu terbanting. Ayah Soo Ah masuk dalam
keadaan mabuk berat. Seorang wanita tampak membantunya berjalan masuk ke dalam.
berlanjut ke #3