Selasa, 26 Juni 2012

The One I Love #2


“ah, benarkah ? baiklah.” Kata Chae Lee bergegas ke dapur. 

“Soo Ah, menu apa yang kau rekomendasikan untuk menu makan siang ?”, tanya Tuan Kim keluar dari ruangannya. 

“karena ini sudah masuk musim dingin, bagaimana kalau menu utama nya adalah kimchi.. Kimchi Jeon, Chonggak Kimchi, Dubu Kimchi, Gungjung Baechu Kimchi, Kimchi Jigae, dan sup kimchi yang lain.. bukankah kimchi sangat cocok di makan saat udara dingin, Kimchi juga bisa membuat badan segar kembali. Lagipula Insadong dikenal dengan deretan kedai yang menyediakan masakan khas korea. Bagaimana Tuan Kim ?”, tanya Soo Ah.

“benar juga, kalau begitu pergilah ke pasar, beli sawi kimchi dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan !”, suruh Tuan Kim sambil memberi uang belanja.

 Soo Ah segera melesat menuju ke pasar. Semakin siang pasar semakin ramai. Deretan lapak menual sawi kimchi, suara hiruk pikuk penjual yang menawarkan dagangan dan suara pembeli yang sibuk menawar.
Soo Ah bergegas membeli semua barang-barang yang diperlukan. Dia tidak mau badannya membeku karena dingin nya udara yang mungkin di bawah titik didih. 

Brak ! semua barang yang telah di beli nya segera di taruh di meja dapur.
 “Soo Ah, kau beli apa ?”, tanya Chae Lee.

“ah, Tuan Kim menyuruhku membeli bahan-bahan untuk masakan kimchi.”

“kau membeli sawi Kimchi ?”

“ne, kalau aku beli sawi dan lobak segar, butuh tiga hari untuk membuatnya kan, karena menurutku akan banyak pelanggan hari ini, aku beli saja yang instan” kata Soo Ah tersenyum.

Benar saja, karena udara yang semakin dingin, kedai kopi tempat Soo Ah bekerja semakin ramai. Ada yang sekedar minum secangkir kopi, ada juga yang datang beramai-ramai sambil memesan makanan. Para pegawai tidak mempunyai waktu untuk beristirahat karena pelanggan selalu datang dan memesan banyak.

Tik..tik..tik.. suara detik jam berganti dengan suara alarm yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Soo Ah dan yang lain sibuk untuk membersihkan kedai. Saatnya nafas lega mereka helakan karena sudah dapat bersiap untuk pulang.

“Tanggal 22 Desember nanti kalian akan tetap bekerja. Kedai akan buka pukul lima sore sampai setengah dua belas malam.”, kata Tuan Kim

“22 Desember, itu lusa. Bukankah kita seharusnya sudah libur ? lagipula pada tanggal itu keluarga akan berkumpul untuk merayakan Dongji (
동지).”, protes Chae Lee.

“benar, maka akan banyak toko yang tutup pada hari itu. Sedangkan akan ada banyak keluarga yang akan keluar untuk merayakan Dongji. Entah untuk minum atau berkaraoke. Kita bisa memanfaatkan waktu seperti itu untuk memperoleh keuntungan. Bonus kalian akan dibayar  tiga kali lipat di tambah gaji tahun baru. Lalu Januari nanti kalian tetap akan mendapat upah. Bagaimana ?”, tanya Tuan Kim dengan otak cemerlangnya itu.

Mendengar bonus yang menggiurkan semua segera meng-iyakan usul tuan Kim. Siapa yang tidak tergiur dengan kantong yang tebal.

Soo Ah segera pulang ke rumahnya.

“malam ini appa tidak pulang lagi ?”, gerutunya sambil menutup pintu.
Diambilnya sepanci kecil air untuk membuat ramen.
 Natal tinggal menghitung hari, tapi hiasan satu pun belum ada yang terpajang di rumah. Appa yang sibuk dengan pekerjaannya, eomma yang meninggal delapan tahun yang lalu.

“ah..”, desahnya. Setetes air mata begulir ke pipi nya

Ibu nya meninggal delapan tahun yang lalu. Ayahnya yang sedih mencoba melupakan kejadian itu dengan menyibukkan dirinya dalam pekerjaan. Bahkan dia tidak tahu jika Soo Ah bekerja sambilan selama enam bulan ini.

Brak ! suara pintu terbanting. Ayah Soo Ah masuk dalam keadaan mabuk berat. Seorang wanita tampak membantunya berjalan masuk ke dalam.

berlanjut ke #3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar